Dalam lebih dari tiga dekade saya mengamati dinamika industri telekomunikasi dan penyiaran di Indonesia, satu pola yang selalu berulang adalah kecenderungan kita membiarkan struktur pasar tumbuh terlalu lebar dibandingkan kemampuan ekonomi nasional untuk mendukungnya. Padahal, dalam industri padat modal seperti telekomunikasi dan media, jumlah pemain yang tidak seimbang dengan daya dukung pasar justru dapat menimbulkan instabilitas jangka panjang.
Sekitar sepuluh tahun lalu, saya pernah menyampaikan bahwa jumlah operator seluler di Indonesia terlalu banyak. Dengan beban investasi jaringan yang tinggi, biaya lisensi frekuensi, serta persaingan harga yang tidak sehat, mustahil seluruh pemain dapat bertahan. Tidak butuh waktu lama hingga prediksi itu terbukti: industri telekomunikasi memasuki gelombang konsolidasi besar-besaran.
XL lebih dulu mengakuisisi Axis. Beberapa tahun kemudian, Indosat dan Hutchison 3 Indonesia bergabung menjadi Indosat Ooredoo Hutchison. Dan puncaknya datang pada 2025 ketika XL Axiata dan Smartfren resmi merger, sehingga Indonesia kini hanya memiliki tiga operator utama: Telkomsel, Indosat Ooredoo Hutchison, dan XL–Smartfren (XLSMART). Dari semula 5–7 operator, kini pasar menemukan bentuknya yang lebih sehat dan lebih efisien.
Angka-angka memperjelas alasan konsolidasi itu tak terelakkan. Pasar seluler Indonesia memang besar—dengan lebih dari 332 juta pelanggan multi-SIM—namun struktur pendapatan tidak cukup untuk menopang terlalu banyak operator. CAPEX jaringan terus naik, kebutuhan investasi spektrum untuk 4G dan 5G semakin mendesak, sementara perang tarif memakan margin. Konsolidasi menjadi satu-satunya jalan bagi keberlanjutan industri.
Fenomena serupa terjadi di sektor televisi nasional. Ketika kebijakan networked broadcasting diberlakukan dan stasiun TV diwajibkan berjaringan, saya juga sudah mengingatkan bahwa jumlah TV station akan membengkak melebihi kapasitas perputaran uang di sektor penyiaran. Pasar iklan, yang selama puluhan tahun menjadi sumber kehidupan industri televisi, tidak tumbuh cukup cepat untuk memenuhi kebutuhan sedemikian banyak pemain.
Faktanya, dalam dekade terakhir, nilai iklan televisi tradisional stagnan dan terus tergerus oleh migrasi belanja iklan ke media digital. Pada 2024, pendapatan iklan broadcast TV diperkirakan sekitar US$ 1,4 miliar, jauh dari cukup untuk menopang puluhan stasiun TV nasional dan jaringan. Sementara itu, platform digital dan OTT semakin agresif merebut audiens dan belanja iklan. Tak mengherankan bila banyak stasiun TV akhirnya runtuh atau beroperasi jauh di bawah kapasitas optimal.
Dua contoh ini menegaskan satu hal penting: regulasi harus dibangun dengan pandangan jauh ke depan, bukan hanya merespons kebutuhan sesaat. Regulasi yang baik harus memperhitungkan dinamika pasar, struktur industri, daya dukung ekonomi, dan tren teknologi jangka panjang. Jika tidak, regulasi justru melahirkan industri yang rapuh—dipaksa tumbuh luas di permukaan, tetapi tidak kokoh di pondasi.
Pembuat kebijakan harus berani bertanya: Apakah regulasi ini memungkinkan industri tumbuh secara berkelanjutan dalam 10–20 tahun ke depan? Apakah jumlah pemain yang dihasilkan aturan ini realistis dibandingkan kapasitas ekonomi sektor tersebut? Apakah kita sedang membangun kompetisi sehat, atau justru pasar yang terpecah-pecah dan tidak efisien?
Pasar memang pada akhirnya akan mencari keseimbangannya sendiri melalui merger, konsolidasi, atau bahkan keruntuhan pemain. Namun, regulator memiliki peran penting untuk memastikan proses itu tidak menimbulkan gejolak yang merusak ekosistem industri maupun merugikan masyarakat.
Telekomunikasi dan penyiaran adalah dua sektor strategis yang menunjukkan bahwa tanpa horizon panjang, regulasi justru dapat mematikan industri. Ke depan, kita harus lebih bijak dalam menata struktur pasar: tidak semua industri membutuhkan banyak pemain, dan tidak semua kompetisi berarti pertumbuhan.
Regulasi yang kuat adalah regulasi yang hidup sejalan dengan kekuatan ekonomi. Regulasi yang visioner adalah yang mencegah krisis sebelum terjadi. Dan regulasi yang bijaksana adalah yang menjamin keberlanjutan industri bagi generasi berikutnya.
Sebuah renungan bagi kita semua.
Untuk membaca artikel selengkapnya, silakan kunjungi sumber asli di:
Investortrust.id: Industri Telekomunikasi Korban Regulasi Tanpa Horizon Panjang