Oleh Teguh Anantawikrama (Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia)
Ada satu hal yang selalu membuat saya bangga sebagai orang Indonesia: kita adalah bangsa yang percaya bahwa pelayanan publik bukan sekadar kewajiban, tetapi wujud kasih negara kepada rakyatnya.
Namun hari ini, terlalu banyak warga kita yang masih harus berjuang melawan birokrasi—mengantre berjam-jam, mengulang data berkali-kali, berpindah portal hanya untuk mendapatkan hak dasar sebagai warga negara.
Mereka tidak marah. Mereka hanya lelah. Dan mereka menunggu perubahan.
Digital Public Infrastructure (DPI)
Bayangkan seorang ibu di desa tidak perlu lagi naik ojek tiga kali untuk urusan administrasi. Bayangkan seorang nelayan bisa menerima subsidi tepat waktu tanpa harus meninggalkan perahunya. Bayangkan seorang anak—di mana pun ia lahir—mendapat identitas digital sejak detik pertama ia membuka mata.
Itulah Indonesia yang ingin kita hadirkan. Itulah Indonesia yang bisa kita bangun dengan DPI. DPI hadir ketika layanan publik menjadi anugerah, bukan beban.
DPI bukan teknologi. DPI adalah rasa hormat negara kepada warganya—bahwa hidup mereka terlalu berharga untuk disulitkan oleh tumpukan formulir dan proses yang tak perlu.
KemenPAN-RB: Penjaga Api Perubahan
Setiap bangsa butuh pemimpin yang mampu melihat jauh ke depan dan berani menghapus cara lama demi mengukir cara baru. Dalam transformasi digital pemerintah, KemenPAN-RB adalah penjaga api perubahan itu.
KemenPAN-RB tidak sedang membangun aplikasi. KemenPAN-RB sedang membangun harapan: harapan akan birokrasi yang lebih sederhana, harapan akan negara yang lebih hadir, harapan bahwa pelayanan publik bukan lagi perjuangan, tetapi kenyamanan.
Dengan mandatnya untuk menyatukan pusat dan daerah, menyederhanakan proses, serta membentuk budaya kerja baru, KemenPAN-RB adalah tulang punggung Indonesia modern.
Ketika PAN-RB memimpin, transformasi digital bukan hanya mungkin—ia tak terelakkan.
Mengapa ini penting? Karena kita sedang membangun marwah bangsa. Negara maju tidak dinilai dari gedung tinggi atau jalan lebar, tetapi dari bagaimana ia melayani rakyatnya.
Jika kita ingin Indonesia Emas 2045, kita harus mulai dengan memastikan bahwa setiap warga—tanpa memandang siapa dia atau di mana ia tinggal—mendapatkan pelayanan terbaik dari negaranya.
Banyak negara telah membuktikan perubahan ini: Brasil membuka pintu ekonomi digital bagi jutaan rakyat lewat PIX. India menghapus miliaran dolar kebocoran dengan identitas digitalnya. Estonia mengubah birokrasi menjadi pengalaman yang hampir tanpa gesekan.
Indonesia bisa lebih dari itu. Karena kita bukan sekadar bangsa besar—kita bangsa yang punya hati.
Indonesia sedang menulis masa depan. Mari kita tulis dengan baik. Transformasi digital adalah perjalanan panjang, tapi setiap langkah akan mendekatkan kita pada negara yang lebih adil, lebih sederhana, dan lebih manusiawi.
DPI adalah fondasinya. KemenPAN-RB adalah pemimpinnya. Rakyat Indonesia adalah alasan kita melakukannya.
Perubahan ini bukan sekadar kebijakan. Ini adalah janji kita kepada bangsa—bahwa negara akan selalu berusaha mempermudah, menguatkan, dan menghormati kehidupan setiap warganya.
Jika kita bergerak bersama, Indonesia tidak hanya akan maju. Indonesia akan bersinar.